Halo NutriCiers!
Tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Untuk memperingati hari Hepatitis Sedunia, kita akan membahas mengenai penyakit hepatitis pada ibu hamil dan pengaruhnya terhadap janin yang dikandungnya.
Hepatitis merupakan penyakit berupa peradangan pada sel-sel hati yang disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), obat-obatan (termasuk obat tradisional), konsumsi alkohol, konsumsi lemak berlebih, dan penyakit autoimun. Virus yang dapat menyebabkan hepatitis misalnya hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), dan hepatitis E (HEV). Di antara semua jenis penyakit hepatitis, hepatitis B merupakan tipe hepatitis yang paling parah. Untuk mendeteksi infeksi hepatitis B perlu adanya uji serologi HbsAg.
Penyakit hepatitis, terutama hepatitis B, masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penderita hepatitits B tertinggi di Asia Tenggara setelah Myanmar. Hal yang perlu diperhatikan adalah wanita hamil yang menderita hepatitis B memiliki risiko tinggi bagi ibu maupun janin yang dikandungnya. Ibu hamil dengan hepatitis B memiliki risiko mortalitas yang tinggi. Selain itu, ibu hamil dengan hepatitis B dapat menularkan virus pada bayi yang dikandungnya atau bisa disebut dengan mother to child transmission (MTCT). Secara umum, virus hepatitis B dapat ditularkan melalui dua cara, yaitu penularan horizontal dan vertikal. Penularan horizontal terjadi melalui selaput lendir, sedangkan penularan vertikal dapat terjadi melalui tiga tipe, yaitu:
- Penularan in utero. Mekanisme penularan ini masih belum diketahui dengan pasti karena bertentangan dengan salah satu fungsi plasenta, yaitu melindungi bayi dari infeksi virus dan bakteri.
- Penularan perinatal. Penularan ini terjadi pada saat proses persalinan.
- Penularan post natal. Penularan ini dapat terjadi melalui ASI yang tercemar oleh virus hepatitis B.
Secara umum, tatalaksana pada ibu hamil dengan hepatitis tidak jauh berbeda dengan prinsip dasar tata laksana pasien hepatitis. Ibu hamil disarankan cukup istirahat. Untuk memperkecil risiko penularan perinatal, biasanya dokter menyarankan untuk melakukan operasi caesar. Operasi caesar ini harus dilakukan sebelum ketuban pecah. Kemudian, untuk mencegah penularan post natal, bayi harus segera diberikan vaksin hepatitis B yang dilakukan secara intra muscular dengan dosis 0,5 mL selambat-lambatnya 24 jam setelah bayi lahir.
Nah itu tadi tata laksana kehamilan dengan hepatitis B. Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan Sobat NutriCiers.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
