Yuk Kenali Penyebab dan Cegah Stunting Sebelum Terlambat!
Hai NutriCiers!
Pasti kalian sudah tidak asing kan dengan masalah gizi “Stunting”?
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan anak terlalu pendek untuk usia seharusnya. Kekurangan gizi ini dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru terlihat biasanya setelah bayi berusia 2 tahun.
Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 30,8% dan Indonesia menduduki peringkat pertama prevalensi stunting tertinggi di Asia Tenggara serta masuk kedalam 5 besar negara di dunia. Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis apabila prevalensi stunting melebihi dari 20%. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong cukup kronis. Maka dari itu, jika kalian bertanya – tanya mengapa orang Indonesia mayoritas memiliki tinggi badan yang lebih pendek daripada negara lainnya? Bisa jadi, hal tersebut merupakan salah satu indikator dari tingginya prevalensi stunting.
Apa saja dampak dari stunting?
Tidak hanya berdampak terhadap kesehatan, stunting dapat menyebabkan berbagai masalah bagi negara. Balita/Baduta (Bayi dibawah usia dua tahun) yang mengalami stunting dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal, anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit, dan risiko menurunnya tingkat produktivitas di masa depan. Terlebih lagi, secara luas stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tingkat kemiskinan.
Lalu, apa saja faktor yang mendukung terjadinya stunting?
- Praktik Pengasuhan yang Kurang Baik.
Dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, baik sebelum dan saat masa kehamilan, maupun setelah ibu melahirkan. Rendahnya kebiasaan ASI eksklusif (0-6 bulan) dan pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) di usia yang tidak tepat dapat menjadi penyebab kekurangan gizi pada bayi. MPASI diberikan saat kebutuhan nutrisi pada bayi saat tidak cukup lagi dipenuhi oleh ASI.
- Terbatasnya Layanan Kesehatan dan Pembelajaran Dini yang Berkualitas.
Hal tersebut dapat menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan oleh ibu. Seperti dalam hal pentingnya imunisasi, pentingnya konsumsi suplemen zat besi bagi ibu hamil, dsb. Lebih lanjut, dapat mempengaruhi kualitas praktik pengasuhan dari ibu ke anak.
- Kurangnya Akses Keluarga Dalam Mendapatkan Makanan Bergizi.
Hal ini dikarenakan akses terhadap sumber makanan bergizi di Indonesia masih terbatas sehingga tergolong cukup mahal.
- Kurangnya Akses Air Bersih dan Sanitasi.
Seperti contoh, masih adanya praktik BAB di sungai. Kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan dapat menyebabkan penyakit infeksi seperti diare yang meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Mari bersama-sama kita putus rantai stunting melalui pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, ASI eksklusif & MPASI, rutin ke Posyandu, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
