Lewati ke konten
NutriClinic
Issues

Kondisi Malnutrisi dan Anemia Menyulitkan Penyembuhan Tuberkulosis, Benarkah Begitu?

Ditulis oleh Prambandanty Poetri Irnandy2 menit baca
Kondisi Malnutrisi dan Anemia Menyulitkan Penyembuhan Tuberkulosis, Benarkah Begitu?
Status gizi yang buruk serta anemia menyebabkan penurunan kecepatan proses penyembuhan pasien Tuberculosis yang dapat berisiko pada kematian.
Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-vector/world-tuberculosis-day-red-background-with-red-lungs_1074689.htm#query=tuberculosis-day&position=9   

Halo NutriCiers!

Di negara berkembang seperti Indonesia, kejadian tuberkulosis masih terbilang cukup tinggi dengan temuan sebanyak 842.000 kasus per tahun 2019. Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular dan bisa menyerang siapapun, terutama bagi seseorang dengan imunitas yang rendah.

Apakah Nutriciers tahu? Bahwa selain sebagai penyakit infeksius, TB ternyata dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi lainnya, seperti malnutrisi dan anemia bagi penderita. 

Keadaan malnutrisi pada penderita TB disebabkan karena adanya perubahan metabolisme dalam tubuh, timbulnya rasa mual dan hilangnya nafsu makan. Penderita TB yang selama proses penyembuhan mengalami peningkatan berat badan yang rendah atau cenderung turun, dapat diikuti dengan menurunnya status gizi pula. Status gizi yang buruk dapat menyebabkan pasien mengalami kekambuhan TB saat sedang dalam proses penyembuhannya. Oleh karena itu, proses penyembuhan TB harus didukung baik dari segi pengobatan dan juga asupan gizi sehingga proses penyembuhan dapat berjalan secara optimal. Asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan mengakibatkan tubuh kurang mampu untuk melawan penyakit sehingga proses penyembuhan berjalan lebih lama.

Kondisi lain yang sering terjadi bersamaan ketika seseorang menderita TB adalah anemia. Anemia pada penderita TB disebabkan karena adanya perubahan leptin darah dan menurunnya proses eritropoesis. Telah banyak penelitian yang menyatakan bahwa kondisi anemia pada penderita TB dapat meningkatkan risiko kematian. Anemia atau biasa disebut kurang darah merupakan keadaan hemoglobin yang berada di bawah batas normal yang disebabkan karena kurangnya zat gizi tertentu, seperti anemia defisiensi besi, anemia defisiensi asam folat dan B12. Saat anemia, konsentrasi hemoglobin dalam tubuh tergolong rendah. Fungsi hemoglobin sendiri adalah untuk mengangkut O2 dari paru-paru ke jaringan perifer dan mengangkut CO2 dari jaringan perifer ke paru-paru.

Untuk dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada penderita TB, maka penting untuk memenuhi asupan zat gizi terutama yang zat dapat membantu sintesis sel darah merah, seperti zat besi, asam folat dan vitamin B12. Makanan sumber protein seperti daging dan ikan laut merupakan makanan yang tinggi akan zat besi dan vitamin B12, sedangkan asam folat dapat diperoleh dari sayuran hijau seperti bayam dan sawi. Zat gizi yang diperoleh dari keragaman pangan dapat lebih meningkatkan efektivitasnya karena dapat bermanfaat satu dengan lainnya. Sebagai contoh, kandungan vitamin C pada sayur dan buah-buahan dapat membantu proses penyerapan zat besi dalam tubuh.

Selain dari asupan makanan, penanganan anemia pada penderita TB juga dapat diberikan suplemen asam folat dan zat besi. Tablet zat besi dan asam folat bisa ditambahkan setelah 2 minggu memulai terapi Anti-TB.

Salam Gizi, Sehat Berkualitas!

Tag:#anemia#gizi#gizi buruk#gizi seimbang#Hari TB sedunia#IMT#imun#imunitas#Infeksi virus#malnutrisi#mineral#Mycobacterium tuberculosis#protein#status gizi#vitamin#zat besi

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya

Ketahui Gejala Kanker Tulang Pada Anak

Kurangnya keaktifan dalam bergerak, nyeri, pembengkakan jaringan tulang lunak, demam dan lemahnya struktur tulang Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-vector/diagram-showing-broken-bone-human-

Felicia Magdalena Kweesar