Lewati ke konten
NutriClinic
Issues

Rentan Anemia, Benarkah Pengidap Talasemia Dilarang Mengonsumsi Zat Besi?

Ditulis oleh Nadia Rana Nabila2 menit baca
Rentan Anemia, Benarkah Pengidap Talasemia Dilarang Mengonsumsi Zat Besi?
Meski rentan terkena anemia, pengidap talasemia memiliki kecenderungan menumpuk zat besi di dalam tubuh, yang mana konsumsi makanan tinggi zat besi sebaiknya dihindari. 
Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-vector/blood-donor-nurse_9174325.htm#page=1&query=anemia&position=4

Halo NutriCiers!

Talasemia adalah kondisi kelainan darah genetik, dimana pengidapnya tidak dapat memproduksi cukup hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menyuplainya ke seluruh tubuh. Kekurangan hemoglobin akibat talasemia dapat menyebabkan anemia yang cukup parah. Oleh karena itu, pengidap talasemia biasanya membutuhkan tranfusi darah secara rutin.

Transfusi darah adalah kegiatan mentransfer darah yang didonorkan orang lain ke dalam tubuh kita melalui pembuluh darah. Kebanyakan pengidap talasemia tipe major (tipe yang lebih parah) memerlukan transfusi darah secara rutin untuk mengobati anemia. Semakin parah talasemianya, maka semakin parah anemianya. Sehingga, mereka membutuhkan transfusi darah lebih banyak (misal sekali tiap 1 bulan). 

Pengidap talasemia yang rutin menerima transfusi darah bisa mengalami penumpukan zat besi di dalam tubuhnya. Tetapi, ternyata pengidap talasemia yang tidak memerlukan transfusi darah pun juga bisa mengalami hal serupa, lho, NutriCiers! Pasalnya, kondisi talasemia menyebabkan sel darah merah yang diproduksi tidak stabil sehingga lebih cepat dirombak dibandingkan orang normal. Tetapi, karena proses perombakan ini terlalu cepat, tubuh tidak sempat untuk memproduksi sel darah merah untuk menggantikan yang dirombak. Proses pembentukan sel darah merah baru ini dinamakan eritropoiesis. Zat besi merupakan zat pembangun sel darah merah kita. Karena proses eritropoiesis yang tidak efektif ini, asupan zat besi dari makanan yang berlebih tidak bisa digunakan untuk membuat sel darah merah. Akibatnya, zat besi tersebut menumpuk di dalam tubuh.

Penumpukan zat besi dalam tubuh pada akhirnya dapat merusak organ tubuh seperti hati, jantung, dan kelenjar endokrin. Maka, pengidap talasemia yang rutin menerima transfusi darah biasanya juga perlu menjalani terapi kelasi besi. Terapi kelasi besi bertujuan untuk mencegah penumpukan zat besi beracun dan menghilangkan kelebihan zat besi dalam tubuh.

Lantas, benarkah pengidap talasemia dilarang mengonsumsi zat besi? Jawabannya adalah benar. Meski rentan terkena anemia, karena pengidap talasemia memiliki kecenderungan menumpuk zat besi di dalam tubuh, maka konsumsi makanan tinggi zat besi sebaiknya dihindari. Makanan tinggi zat besi antara lain daging merah, ikan, dan beberapa sayuran seperti bayam. Namun, setiap pengidap talasemia berbeda sehingga sebaiknya konsultasikan dengan dokter apakah perlu membatasi asupan zat besi atau tidak.

Penelitian menunjukkan bahwa menjalani terapi kelasi besi secara rutin diiringi dengan konsumsi tinggi antioksidan dapat menurunkan risiko kerusakan organ akibat penumpukan zat besi. Tahukah NutriCiers? Dibandingkan dengan suplemen, ternyata antioksidan yang bersumber dari makanan lebih efektif, lho! Makanan-makanan tinggi antioksidan antara lain kunyit, teh hijau, kopi, sayuran, dan buah-buahan. Oleh karena itu, pastikan Anda rutin mengonsumsi makanan tinggi antioksidan, ya!

Salam Gizi, Sehat Berkualitas!

Tag:#anemia#antioksidan#donor darah#eritropoiesis#gizi#hari thalasemia sedunia#kesehatan#penumpukan zat besi#sel darah merah#suplemen#talasemia#terapi kelasi besi#transfusi darah#zat besi

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya