Makanan Manis Ganggu Kecerdasan Anak, Orang Tua Wajb Tahu!
Halo NutriCiers!
Makanan dan minuman manis merupakan primadona dalam makanan, rasanya yang manis dan memanjakan lidah membuat siapa saja menyukainya.
Terutama anak-anak yang sangat erat dengan makanan manis, karena sebagian besar makanan manis merupakan makanan favorit mereka. “Manis di lidah tapi tidak di tubuh” adalah suatu ungkapan yang sesuai karena makanan dan minuman manis memiliki banyak dampak negatif jika dikonsumsi berlebihan.
Salah satu dampak yang terjadi pada anak yaitu menurunkan kecerdasan anak dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami bahwa tidak hanya garam dan lemak yang dibatasi, melainkan gula juga perlu dibatasi bahkan untuk anak-anak.
Makanan yang mengandung gula sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti, permen, roti, wafer, makanan ringan, biskuit, dan juga minuman manis. Makanan seperti inilah yang digemari oleh anak-anak usia sekolah. Sehingga pengawasan orang tua sangat dibutuhkan agar anak tidak mengonsumsi makanan manis secara berlebihan.
Kandungan Gula
Makanan atau minuman manis seringkali mengandung tinggi gula atau sukrosa. Sukrosa merupakan disakarida (gabungan glukosa dan fruktosa) yang merupakan pemanis yang sering kita jumpai yaitu dalam bentuk gula pasir.
Gula dalam bentuk glukosa merupakan zat yang dibutuhkan oleh otak untuk aktivitas seluler selama dalam kadar normal. Konsumsi gula secara berlebihan menyebabkan kelebihan kadar glukosa di otak.
Glukosa sendiri dapat mempengaruhi neurotransmiter di otak salah satunya dopamin yang dapat menyebabkan kecanduan gula atau manis. Oleh karena itu, anak yang biasa mengonsumsi makanan manis akan merasa selalu ingin mengonsumsi manis.
Makanan dan minuman camilan anak yang ada di sekitar kita juga mengandung tinggi gula. Sebagai contoh pada 1 buah kemasan susu (125 ml) dengan rasa stroberi memiliki kandungan gula sebesar 12 gram.
American Heart Association (AHA) merekomendasikan, anak-anak usia 2 hingga 18 tahun membutuhkan kurang dari 25 gram (6 sendok teh) gula per hari. Sehingga jika kita lihat dalam satu kemasan susu saja sudah menyumbangkan 48% dari batasan konsumsi gula bagi anak-anak, belum lagi ditambah jajanan atau makanan dengan penambahan gula lainnya.
Dampak Gula
Gula dalam hal ini glukosa memiliki dampak yang negatif ketika kadarnya melebihi normal dalam tubuh. Konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan kadar glukosa darah dalam tubuh maupun otak. Kelebihan glukosa ini mempengaruhi salah satu neurotransmiter di otak yang berperan dalam pengelolaan suasana hati, pembelajaran, dan memori. Neurotransmiter ini disebut Dopamin.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan ketersediaan reseptor dopamin di otak akibat mengonsumsi banyak gula dalam jangka waktu lama dan bersifat adiktif sehingga sulit untuk mengurangi gula dalam pola makan.
Penelitian lain menyebutkan ada perbedaan tingkat kecerdasan pada anak yang mengonsumsi gula. Pada anak yang banyak mengonsumsi gula dan makanan manis memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengonsumsi gula.
Ketika konsumsi gula berlebih, tubuh akan menetralkannya dengan memperbanyak produksi insulin. Sedangkan kadar insulin yang terlalu banyak akan membuat anak lelah sehingga sulit berkonsentrasi. Sehingga kelebihan konsumsi gula dapat menurunkan kualitas belajar, membuat anak menjadi terlalu aktif dan lebih agresif.
Adanya gula yang tinggi dalam tubuh terutama otak, dapat mempengaruhi beberapa hal antara lain:
- Kemampuan memahami informasi yang diucapkan
- Kemampuan menyampaikan informasi dengan baik
- Kemampuan mengingat informasi tentang lokasi, mengaitkan objek, dan memproses informasi visual spasial .
- Kesulitan dalam mengingat kata atau kalimat.
Anjuran konsumsi gula
WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan di bawah 10% dari total asupan energi harian. Idealnya konsumsi gula tambahan per hari dapat diberikan 5% dari total energi. Rekomendasi gula untuk anak-anak adalah sebagai berikut:
- Usia 2-4 tahun : 15-16 gram per hari (4 sendok teh)
- Usia 4-7 tahun : 18-20 gram per hari (5 sendok teh)
- Usia 7-10 tahun : 22-23 gram per hari (5,5 sendok teh)
- Usia 10-13 tahun : 24-27 gramper hari (6,5 sendok teh)
Alternatif Makanan
Dianjurkan untuk membiasakan anak mengonsumsi berbagai sumber karbohidrat yang mengandung gula alami, seperti umbi-umbian, sayur, dan buah.
Peran orang tua sangat penting dalam pemilihan makanan anak. Cara terbaik mengurangi konsumsi makanan tinggi gula adalah dengan mengonsumsi makanan alami.
Orang tua dapat mengurangi pemberian makanan kemasan dan mengutamakan menyiapkan camilan buatan sendiri dari rumah dengan memperhatikan bahan yang digunakan, yaitu tidak memilih menu camilan yang tinggi gula atau hanya terdiri dari karbohidrat.
Camilan yang dibuat dapat divariasikan dari sumber karbohidrat, protein, serat seperti spring roll isi ayam dan sayur, pudding susu dan buah, kroket ayam, dan lain-lain.
Jangan lupa untuk senantiasa memantau status gizi anak dan berkonsultasi dengan ahli gizi. Yuk Download Aplikasi Nutric.id di Play Store sebagai teman konsultasi gizi anak!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
