Thalasemia pada Anak, Apa Saja Dampaknya?
Hai, NutriCiers!
Apakah Anda pernah mendengar tentang thalasemia?
Thalasemia merupakan kelainan yang menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah karena sel darah merah mudah mengalami kehancuran. Thalasemia tergolong dalam salah satu jenis anemia hemolitik. Thalasemia termasuk penyakit genetis atau diwariskan dari ayah dan ibu kepada anaknya dan biasanya baru diketahui saat anak berusia beberapa bulan. Saat baru dilahirkan, kondisi fisik anak yang mengalami thalasemia akan tampak baik-baik saja, tetapi gejala thalasemia akan semakin terlihat seiring bertambahnya usia. Berdasarkan kerusakan rantai globin (protein pembentuk hemoglobin), thalasemia diklasifikasikan menjadi thalasemia alfa dan beta. Thalasemia alfa dibagi lagi berdasarkan tingkat keparahannya, yakni dari ringan hingga berat. Begitupun dengan thalasemia beta yang juga dibagi berdasarkan tingkat keparahnnya, yakni minor yang biasanya tanpa gejala, mayor yang memerlukan tranfusi darah, dan intermediet.
Nah sayangnya sampai saat ini masih belum ada obat untuk penderita thalasemia, NutriCiers. Akan tetapi, mereka pejuang thalasemia dapat menjalani terapi untuk mempertahankan hemoglobin agar dapat mencegah kerusakan sumsum tulang dan tulang, serta menyediakan sel darah merah yang cukup untuk tumbuh kembang penderitanya. Penderita thalasemia pun akan bergantung pada pengobatan tersebut seumur hidup. Dengan catatan, masih ada dampak akibat pengobatan dan penyakit thalasemia sendiri, khususnya pada anak-anak.
Secara keseluruhan, thalasemia dapat mempengaruhi kehidupan seorang anak, khususnya mereka yang mengalami thalasemia berat karena harus melakukan terapi tranfusi darah dan terapi pengkelatan zat besi. Terapi tersebut disatu sisi sangat diperlukan, tetapi disisi lain juga memberikan dampak pada anak. Tranfusi darah berulang dapat menyebabkan kelebihan besi di dalam tubuh yang dapat mengakibatkan zat besi menumpuk di organ hati, jantung, pankreas, dan sendi. Penumpukan zat besi dapat merusak organ-organ tersebut. Transfusi juga dikhawatirkan dapat menyebabkan penularan infeksi, seperti hepatitis, HIV, dan CMV. Terapi-terapi tersebut juga menghabiskan waktu yang cukup banyak sehingga kesempatan anak untuk bermain dan belajar pun berkurang.
Anak yang mengalami thalassemia sudah sepantasnya layak mendapatkan dampingan dan dukungan emosional dari anggota keluarganya. Mereka juga layak untuk bersosialisasi dengan anak seusianya dan menjalani kehidupan dengan rasa bahagia. Hal itu dilakukan agar anak bisa terus semangat dalam menjalani perawatan. Selain itu, anak yang thalasemia cenderung terhambat pertumbuhannya dan menyebabkan perlambatan waktu pubertas. Pemberian asupan yang bergizi seimbang dan beragam memiliki peran penting dalam mengatasi hal tersebut. Konsumsi suplemen asam folat pun direkomendasikan untuk membantu dalam pembuatan sel darah merah baru. Oleh karena itu, konsultasi gizi diperlukan untuk memaksimalkan terapi dan perawatan thalasemia pada anak.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
