Cegah Krisis Pangan Indonesia: Hilangkan Budaya 'Belum Makan Nasi, Belum Makan'
Hai NutriCiers!
Tahukah Anda?
Jika sejak pertengahan April lalu kita mengalami krisis pangan dunia akibat penerapan karantina wilayah atau lockdown untuk memerangi COVID-19.
Indonesia sendiri akan menghadapi beberapa tantangan dalam sektor pangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memprediksi bahwa 30% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya. Apalagi dengan konsumsi beras masyarakat Indonesia yang mencapai 124 kg/kapita/tahun padahal konsumsi rata-rata penduduk dunia hanya sebesar 60 kg/kapita/tahun.
Bagaimana kabar stok pangan di Indonesia sendiri? Bagaimana jika kita kelaparan?
Pasti pertanyaan ini muncul seketika mendengar berita tersebut.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati memiliki potensi yang perlu dikelola dengan baik agar memberi manfaat bagi ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyedia pangan dunia dan bisa melewati masa krisis pangan dengan baik.
Sejalan dengan tujuan ke-2 dari Sustainable Development Goals yaitu “Zero Hunger” atau “Nol Kelaparan”, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyadari bahwa sekitar 500 juta pertanian keluarga, yang melibatkan lebih dari 2 miliar orang, memainkan peran kunci dalam produksi dan konsumsi pangan di seluruh dunia. Dorongan untuk mengurangi kelaparan di dunia sebagian besar bergantung pada tanaman selain beras dan gandum. “Ketahanan Pangan” untuk “Nol Kelaparan” bisa diupayakan melalui diversifikasi pangan.
Mengingat tidak sedikit kekayaan pangan lokal Indonesia yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara mulai dari rasi (beras singkong) di Cirendeu (Jawa Barat), tiwul di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) dan beberapa kabupaten di Jawa Timur, aruk/butiran dari singkong (Bangka Belitung), jeppa/butiran dari singkong (Kalimantan Selatan), mie singkong (DI Yogyakarta dan Boyolali, Jawa Tengah), ilui/pati singkong (Nunukan, Kalimantan Timur), bintahune/beras jagung (Gorontalo), beras jagung (Madura dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah), basang/kapurung (Sulawesi Selatan), sinonggi (Sulawesi Tenggara), jagung titi, jagung bose (Nusa Tenggara Timur), ubi jalar (Papua), dan sagu (Papua dan Maluku). Kekayaan pangan lokal yang dimiliki oleh masing-masing daerah tersebut menjadi potensi yang luar biasa dalam diversifikasi pangan pada tingkat kota/kabupaten.
Lalu, bagaimana cara mendukung upaya diversifikasi dimulai dengan diri sendiri?
Nah, ini penting NutriCiers. Sejauh ini, masih banyak masyarakat Indonesia beranggapan “jika tidak makan nasi, dianggap tidak makan”. Mari kita ubah bersama-sama tentang pemikiran ini sebab kurang tepat, karena masih banyak bahan makanan lain yang justru sama-sama berfungsi sebagai sumber tenaga yaitu makanan pokok yang mengandung tinggi karbohidrat, seperti nasi, jagung, singkong, tepung-tepungan.
Berikut adalah ukuran rumah tangga yang bisa kita pakai untuk melakukan diversifikasi pangan. Ingat ya NutriCiers diversifikasi disini berarti mengganti makanan pokok yang biasa kita konsumsi dengan makanan pokok lain yang sejenis.
Nasi putih 2 centong plastik = Roti 2 iris = Ubi jalar kuning 1 biji sedang = Jagung segar 3 biji sedang = Kentang 2 buah = Singkong 1 ½ potong = Talas ½ biji sedang = Sukun 3 potong sedang = Gembili 1 potong = Biskuit 4 buah besar = Mi basah 1 mangkok sedang
Jika coba diproyeksikan, dalam sehari kita 3 kali makan, dan misalkan untuk 1 kali makan kita ganti dari 100 gram nasi menjadi 1 biji sedang ubi jalar kuning, kita sudah bisa menyimpan stok beras sebanyak 40 gram dalam sehari, atau dalam 1 bulan sebanyak 1,2 kg. Belum lagi, Indonesia memiliki jumlah penduduk kurang lebih 260 juta. Bisa kita bayangkan, selama 1 bulan, Indonesia dapat memiliki stok beras sebanyak 312 ribu ton.
Semua berawal dari diri kita NutriCiers, sekecil apapun yang kita lakukan, akan bermanfaat bagi semuanya.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
