Makanan Tradisional VS Fast Food, Dampaknya pada Kesehatan Remaja
Halo NutriCiers!
Banyaknya aneka ragam jenis dari makanan cepat saji atau fast food membuat para remaja lebih banyak mengonsumsinya dibandingkan makanan tradisional.
Masuknya aneka makanan fast food seperti Western, Korean, Japanese Food tidak bisa dihindari akan berdampingan dan kemungkinan dapat menggeser makanan tradisional Indonesia.
Menurut Permenkes No 25 tahun 2014 remaja adalah kelompok usia 10-18 tahun. Perubahan pola konsumsi pangan dari berbasis budaya tradisional yang kaya padi-padian, sayur, buah dan pangan lokal bergerser menjadi western diet yang tinggi gula, lemak jenuh, dan karbohidrat sederhana.
Menurut data Kemenkes 2018 menunjukkan bahwa masih tingginya prevalensi remaja mengalami kegemukan yaitu 13,5%, stunting 25,7% dan anemia 32%. Hasil studi di negara-negara ASEAN pada remaja yang mengonsumsi fast food dua kali atau lebih dalam seminggu berisiko mengalami kegemukan atau obesitas.
Menurut hasil penelitian Briawan di tahun 2022 menunjukkan bahwa fast food lebih disukai dan lebih banyak dikonsumsi remaja yang tinggal di wilayah Jawa-Bali dan perkotaan.
Adapun jenis fast food yang banyak dikonsumsi yaitu berbasis umbi-umbian seperti french fries, daging dan unggas seperti fried chicken dan minuman non susu. Dampak mengonsumsi fast food bagi kesehatan diantaranya :
-
Obesitas atau kegemukan
Remaja yang mengonsumsi fast food dengan asupan energi total yang tinggi memiliki risiko 2,27 kali lebih tinggi mengalami obesitas dibandingkan remaja yang mengonsumsi asupan energi fast food yang rendah.
-
Meningkatkan faktor risiko hipertensi (tekanan darah tinggi)
Fast food mengandung garam yang tinggi yang dapat meningkatkan air liur dan sekresi enzim sehingga meningkatkan keinginan untuk terus makan makanan tersebut.
Tingginya kandungan lemak dan natrium mengganggu keseimbangan sodium dan potassium dalam tubuh sehingga menyebabkan hipertensi.
-
Meningkatkan faktor risiko diabetes
Penelitian di Singapura menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi fast food khas negara barat dengan frekuensi yang sering memiliki risiko lebih besar menderita diabetes melitus tipe 2.
-
Meningkatkan faktor risiko kanker
Studi di Eropa menyebutkan bahwa konsumsi fast food yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal karena fast food kurang mengandung serat namun tinggi gula dan lemak.
-
Meningkatkan faktor risiko penyakit jantung
Fast food banyak mengandung garam yang berlebihan dan obesitas dapat memicu risiko penyakit jantung.
-
Meningkatkan faktor risiko stoke
Fast food dapat memicu terjadinya stroke pada usia muda karena kandungan kolesterol yang tinggi akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah otak.
Peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan kegemukan akibat pola makan yang mengandung tinggi lemak atau kolesterol.
Mengonsumsi makanan yang sehat sejak sebelum kelahiran hingga hari-hari terakhir kehidupan sangat penting untuk mencegah segala bentuk malnutrisi serta diabetes, kanker, dan penyakit tidak menular lainnya. Berikut Pola makan sehat yang menjadi rekomendasi dari WHO 2023:
- Buah-buahan, sayuran, polong-polongan, kacang-kacangan, dan biji-bijian, Setidaknya 400 g buah dan sayuran (yaitu 5 porsi)
- Membatasi makanan tinggi lemak, gula dan garam. Total konsumsi lemak tidak melebihi 30% dari total asupan energi, lemak jenuh harus kurang dari 10% dan lemak trans kurang dari 1% dari total asupan energi
- Mengurangi asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total asupan energi dan pengurangan lebih lanjut hingga kurang dari 5% disarankan untuk mendapatkan manfaat kesehatan tambahan
- Membatasi garam menjadi kurang dari 5 g per hari (setara dengan sekitar 1 sendok teh).
Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut dapat menghubungi ahli gizi Nutric.id untuk memilih bahan pangan lokal yang baik untuk dietmu agar lebih optimal dan menyenangkan. Yuk Download Aplikasi Nutric.id di Play Store.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
