Ternyata Anak-anak dan wanita lebih berisiko terkena Systemic Lupus Erythematosus (SLE)!
Halo Nutriciers!
Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan salah satu kelainan autoimun multisistem, perubahan genetik dan hilangnya toleransi limfosit berkaitan dengan autoimun serta inflamasi. Dimana tanda dari penyakit ini yaitu disregulasi sistem imun,pembentukan autoantibodi dan kompleks imun yang menghasilkan inflamasi serta dapat terjadi kerusakan pada berbagai organ tubuh. Seluruh organ mungkin saja dapat terlibat namun yang sering yaitu kulit menjadi ruam,artritis dan gangguan ginjal serta hematologis. Ada beberapa faktor yang berkaitan patogenesis lupus diantaranya predisposisi genetik, disregulasi gen transkripsi genetik, ketidakseimbangan hormon seks, lingkungan dan disfungsi mitokondria. Faktor lingkungan yang dimaksud cukup luas, diantaranya yaitu infeksi, bahan kimia, logam berat, obat-obatan, tekanan mental/psikologis dan pengaruh makanan atau zat gizi.
Diperkirakan terdapat 0,6 dari 100.000 anak dengan kasus SLE tiap tahunnya. Jenis kelamin ternyata juga berpengaruh, dimana perempuan lebih berisiko mengidap SLE dibandingkan pria dengan rasio 3:1 dan ini akan meningkat pada saat pubertas menjadi 9:1. Wanita lebih berisiko terkena SLE karena berkaitan dengan faktor hormonal serta pengaruh dari kromosom X. Laki-laki diketahui memiliki penekanan kekebalan yang lebih besar jika dibandingkan dengan wanita. Wanita memiliki peningkatan reaktivitas imun yang besar sehingga mempu memberikan ketahanan terhadap infeksi dan non infeksi,namun sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik sehingga jika reaktivitas imun berlebih maka lebih berisiko mengalami penyakit autoimun.
Pada anak-anak yang memiliki riwayat SLE diketahui lebih agresif dibanding dengan orang dewasa. SLE pada anak-anak sering kali disebut dengan cSLE. Pada anak-anak penyakit ini sering kali menyebabkan kematian, hal ini sering kali disebabkan oleh infeksi, gagal ginjal, dan penyakit kardiopulmoner, gagal jantung. Diketahui lebih dari 50% kematian SLE pada anak disebabkan oleh infeksi, infeksi yang dimaksud yaitu infeksi berat dengan keadaan disfungsi sistem imun terutama pada pasien End Stage Renal Failure (ESFR), pengobatan imunosupresif dan paparan patogen resisten obat selama dirumah sakit.
Stres oksidatif berperan pada modulasi gen sitokin proinflamasi ekspresi dan penuaan sel/apoptosis. Sebuah studi memaparkan mengenai peningkatan stres oksidatif atau nitrosatif dapat menyebabkan perubahan strukturan dan fungsional dalam berbagai biomolekul termasuk protein, lipid, asam nukleat dan glikoprotein. Maka dari itu stres oksidatif dapat berperan pada patogenesis SLE. Sebuah penelitian telah melakukan uji coba pengobatan keefektivitas antioksidan terhadap SLE yang dapat berdampak baik. Antioksidan dapat dengan mudah ditemukan pada buah yang mengandung tinggi vitamin c diantaranya jeruk, pepaya, apel, jambu, mangga.
Seringkali penderita SLE terjadi keterbatasan fisik sehingga penurunan produktivitas serta pengobatan yang lama dan seumur hidup dapat menimbulkan dampak secara psikologis. Sehingga perlu sekali dukungan psikologis dari orang-orang terdekatnya dan lingkungan sekitar agar tetap optimis bertahan hidup.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
